Hiburan

Bantah Berkas Restu P21, Kasipidum : Tanya Saja Pasalnya ke Polisi

Jakarta, Tengokberita.com – Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan menyatakan berkas perkara narkoba aktor Restu Sinaga hingga kini masih belum lengkap atau P21. Sementara Polres Jakarta Selatan, melalui Kasat Narkoba Kompol Vivick Tjangkung mengaku, berkas tersebut sudah lengkap, tinggal di P21 kan saja oleh Kejari.

Kepala Seksi Pidana Umum (Kasipidum) Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan (Kejari Jaksel),  Chandra Saptaji yang ditemui tengokberita.com, Jumat (5/8/2016), mengatakan, yang pasti perkara itu belum P21. Berkasnya masih ada sama polisi. Terkait pasal ancaman yang dikenakan, Chandra menyarankan agar bertanya sama polisi dan jaksa peneliti.

“Saya tidak hapal pasal-pasalnya, karena berkasnya belum sampai kepada saya. Kalau sudah P21 baru saya bisa menjelaskan pasal-pasal yang dituduhkan. Makanya tanya aja ke polisi pasal-pasal nya sebelum P21,” kata Chandra, Jumat (5/8/2016).

Sebelumnya, Chandra pernah mengatakan bahwa kasus itu sudah P21 dan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang akan melakukan tuntutan adalah Inne Elaine. “Tanyanya Ke JPU saja Inne,” katanya seperti menghindar.

Untuk diketahui sebelumnya aparat Polres Metro Jakarta Selatan masih mendalami kasus narkoba dengan tersangka Doretu Sinaga atau Restu Sinaga. ”Kami masih mendalami kasus ini, apakah Restu ini sebagai pengguna atau pengedar,” ujar Kasat Narkoba Polres Jaksel, Kompol Vivick Tjangkung pada 8 Juni 2016.

Kendati demikian, dia menjelaskan, pihaknya telah menjerat Restu dengan pasal 111 ayat (1) UU RI No. 35 Tahun 2009 tentang narkotika Jo Pasal 62 UU RI No. 5 Tahun 1997 tentang psikotropika. Dengan ancaman hukuman 20 tahun penjara.

Dari keterangan Restu kepada penyidik, Restu mendapatkan narkoba dari temannya yakni P dan R. Kedua teman Restu tersebut bukanlah artis, mereka diduga selama ini menyuplai narkoba kepada aktor kelahiran 21 September 1974 itu.

Kepada polisi, Restu mengaku sudah menggunakan narkoba sejak 3 tahun terakhir. Beberapa jenis narkoba seperti ganja, dumolid, happy five, dan kokain pernah dirasakan. Namun yang paling sering digunakan adalah jenis kokain. “Pengakuannya, yang paling sering dipakai kokain. Terakhir memakai dua hari lalu,” ujar Vivick Tjangkung.

Vivick menyebutkan, kokain merupakan jenis narkoba yang langka di Indonesia. Kelangkaan itu membuat obat terlarang asal Peru itu memiliki harga tinggi dan hanya biasa dikonsumsi oleh kalangan elite. “Kokain ini kan dari luar negeri, dari Peru. Harganya Rp 2,5 juta per gram. Kalau sabu masih di bawahnya, sekitar Rp 1,5 juta per gram,” jelasnya.

Tidak seperti sabu, reaksi kokain terhadap penggunanya hanya berdurasi sesaat. Namun begitu, kokain memiliki efek candu yang luar biasa dan tentu akan menguras uang yang jauh lebih banyak pula.

“Memang ini reaksinya cuma 30 menit, setelah itu hilang, dan bisa ingin memakai lagi. Ini kan addict. Sekalinya pakai sedikit, pasti nanti harus nambah lagi, dan takarannya lebih banyak dari yang pertama. Begitu seterusnya,” pungkas Vivick.

Restu ditangkap Kamis pagi 2 Juni 2016. Dalam penangkapan itu, polisi berhasil menyita 10,75 gram ganja, 17 butir dumolid berat total 7,47 gram, dan 26 butir happy five berat total 7,21 gram. (yudi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close